Tradingan.com - Pelan-pelan digesernya tubuh kami beringsut ke bawah pancuran. Dan ketika curahan air mulai menimpa-nimpa, rasa segar langsung terasa. Basahlah seluruh tubuh kami. Dalam kondisi basah kuyup begini, kulit jadi terasa lebih licin. Tubuh kami yang tengah bergelut itu terasa berpilin-pilin satu sama lain. Setiap sentuhan terasa meluncur-luncur licin. Menimbulkan rasa geli yang nikmat. Apalagi Bahar kemudian mulai menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya. Gerakannya erotis sekali. Aku tak lagi sanggup mengimbangi. Kubiarkan apa saja yang diperbuatnya. Lebih-lebih ketika tubuhnya pelan-pelan merayap ke bawah dan begitu sampai di pangkal pahaku, mulutnya langsung menyergap.
Bahar adalah lelaki yang aku tahu persis apa yang diinginkannya. Apalagi dalam bercinta. Ia tak mau diinterupsi bila tengah asyik melakukan sesuatu yang ia inginkan. Tapi ia konsisten. Ia akan melakukannya dengan baik dan memuaskan kedua belah pihak. Maka kubiarkan mulut dan lidahnya beraksi di bawah sana. Aku tak bisa melihat dan memang tak mau melihat. Aku hanya mau meresapi apa yang tengah ia lakukan.
Tak hanya batang dan kepala kemaluanku yang jadi sasaran. Tapi seluruh daerah selangkanganku layaknya wilayah kebun yang harus dirambahnya. Lipatan pahaku beberapa kali diusik oleh kumis dan berewoknya yang sudah basah kuyup itu. Lalu lidah dan mulutnya cukup lama bergerilya di kedua bulatan pelirku. Cukup lama ia bermain-main di situ. Sebelum akhirnya gerakannya makin bergeser dan berhenti pada celah di bawahnya. Aku harus meregangkan salah satu kakiku dengan bertumpu pada salah satu batu besar yang ada di situ untuk memberi keleluasaan padanya bermain-main di bawah selangkanganku.
Lalu, entah sejak kapan, tubuh kami tiba-tiba sudah bergeser ke arah batu gunung besar yang ada di bilik mandi itu. Tahu-tahu Bahar telah mendorong rebah badanku dan meneruskan permainan mulutnya di lubang kecil bagian bawah tubuhku. Kedua kakiku disampirkan pada bahunya. Membuatnya makin leluasa menyiapkan diriku untuk persetubuhan yang tampaknya sudah lama tak dilakukannya.
Artikel Terkait
Bagaimana aku bisa menolak semua ini. Rasa nikmat yang ditimbulkan melambungkanku ke atas langit biru yang bisa kulihat dengan jelas dalam posisi telentang seperti ini. Pohon-pohon tampak beroyang karena angin. Sementara tubuhku mulai gelisah bergoyang karena telusuran lidahnya. Serangga dan binatang di sekitar kebun terdengar bersuara-suara mungkin karena kelaparan. Sementara aku melenguh dan mendesah karena mulai menginginkan.
Ketika aku makin gelisah dan kedua kakiku mulai menyentak dan menjepiti kepala Bahar, perlahan baru ia mulai menyadarinya. Tubuhnya pelan-pelan mulai beranjak. Lalu diangkatnya kaki kiriku ke arah bahunya sementara kaki kananku dibiarkan menjuntai di atas batu gunung besar itu. Memposisikan aku sedemikian rupa sehingga selangkanganku terbuka, siap untuk sebuah permainan. Lanjut baca!

0 Response to "Cerita Sex Berbagi Anal Istri Saat Reuni Pemandian 2"
Posting Komentar